Oleh: Yudikelana | Oktober 26, 2008

Nikmatnya Rasa Sakit


Rasa sakit tidak selamanya tak berharga, sehingga harus selalu dibenci.
Sebab, mungkin saja rasa sakit itu justru akan mendatangkan kebaikan
bagi seseorang.
Bisanya, ketulusan sebuah doa muncul tatkala rasa sakit mendera.
Demikian pula dengan ketulusan tasbih yang senantiasa terucap saat rasa
sakit terasa. Adalah jerih payah dan beban berat saat menuntut ilmulah
yang telah mengantarkan seorang pelajar menjadi ilmuwan terkemuka. la
telah bersusah payah di awal perjalanannya, sehingga ia bisa menikmati
kesenangan di akhirnya. Usaha keras seorang penyair memilih kata-kata
untuk bait-bait syairnya telah menghasilkan sebuah karya sastra yang sangat
menawan. Ia, dengan hati, urat syaraf, dan darahnya, telah larut bersama
kerja kerasnya itu, sehingga syair- syairnya mampu menggerakkan perasaan
dan menggoncangkan hati. Upaya keras seorang penulis telah menghasilkan
tulisan yang sangat menarik dan penuh dengan ‘ibrah, contoh-contoh dan
petunjuk.
Lain halnya dengan seorang pelajar yang senang hidup foya-foya, tidak
aktif, tak pernah terbelit masalah, dan tidak pula pernah tertimpa musibah.

la akan selalu menjadi orang yang malas, enggan bergerak, dan mudah
putus asa.
Seorang penyair yang tidak pernah merasakan pahitnya berusaha dan
tidak pernah mereguk pahitnya hidup, maka untaian qasidah-qasidah-nya
hanya akan terasa seperti kumpulan kata-kata murahan yang tak bernilai.
Sebab, qasidah-qasidah-nya hanya keluar dari lisannya, bukan dari
perasaannya. Apa yang dia utarakan hanya sebatas penalarannya saja, dan
bukan dari hati nuraninya.
Contoh pola kehidupan yang paling baik adalah kehidupan kaum
mukminin generasi awal. Yaitu, mereka yang hidup pada masa-masa awal
kerasulan, lahirnya agama, dan di awal masa perutusan. Mereka adalah
orang-orang yang memiliki keimanan yang kokoh, hati yang baik, bahasa
yang bersahaja, dan ilmu yang luas. Mereka merasakan keras dan pedihnya
kehidupan. Mereka pernah merasa kelaparan, miskin, diusir, disakiti, dan
harus rela meninggalkan semua yang dicintai, disiksa, bahkan dibunuh.
Dan karena semua itu pula mereka menjadi orang-orang pilihan. Mereka
menjadi tanda kesucian, panji kebajikan, dan simbol pengorbanan.
{Yang demikian jtu ialah karena mereka ditimpa kehausan, kepayahan dan
kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang
membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana
kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu
suatu amal salih. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang
yang berbuat baik.}
(QS. At-Taubah: 120)
Di dunia ini banyak orang yang berhasil mempersembahkan karya
terbaiknya dikarenakan mau bersusah payah. Al Mutanabbi, misalnya, ia
sempat mengidap rasa demam yang amat sangat sebelum berhasil
menciptakan syair yang indah berikut ini:
Wanita yang mengunjungiku seperti memendam malu,
ia hanya mengunjungiku di gelapnya malam
Syahdan, an-Nabighah sempat diancam akan dibunuh oleh Nu’man
ibn al-Mundzir sebelum akhirnya mempersembahkan bait syair berikut ini:
Engkau matahari, dan raja-raja yang lain bintang-bintang
tatkala engkau terbit ke permukaan,
bintang-bintang itu pun lenyap tenggelam
Di dunia ini, banyak orang yang kaya karena terlebih dahulu bersusah
payah dalam masa mudanya. Oleh karena itu, tak usah bersedih bila Anda
harus bersusah payah, dan tak usah takut dengan beban hidup, sebab
mungkin saja beban hidup itu akan menjadi kekuatan bagimu serta akan menjadi sebuah kenikmatan pada suatu hari nanti. Jika Anda hidup dengan
hati yang berkobar, cinta yang membara dan jiwa yang bergelora, akan lebih
baik dan lebih terhormat daripada harus hidup dengan perasaan yang dingin,
semangat yang layu, dan jiwa yang lemah.
{Tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan
keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama
orang-orang yang tinggal itu.”}
(QS. At-Taubah: 46)
Saya teringat seorang penyair yang senantiasa menjalani kesengsaraan
hidup, menanggung cobaan yang tidak ringan, dan mengenyam pahitnya
perpisahan. Sebelum menghembuskan nafasnya yang terakhir, ia sempat
melantunkan qasidah yang indah, segar, dan jujur. Dialah Malik ibn ar-Rayyib.
Ia meratapi dirinya:
Tidakkah kau lihat aku menjual kesesatan dengan hidayah
dan aku menjadi seorang pasukan Ibnu Affan yang berperang
Alangkah indahnya aku, tatkala aku biarkan anak-anakku
taat dengan mengorbankan kebun dan semua harta-hartaku
Wahai kedua sahabat perjalananku, kematian semakin dekat
berhentilah di tempat tinggi sebab aku akan tinggal malam ini
Tinggallah bersamaku malam ini atau setidaknya malam ini
jangan kau buat lari ia, telah jelas yang akan menimpa
Goreslah tempat tidurku dengan ujung gerigi
dan kembalikan ke depan mataku kelebihan selendangku
Jangan kau iri, semoga Allah memberkahi kau berdua
dari tanah yang demikian lebar, semoga semakin luas untukku
Demikianlah, ungkapan-ungkapannya demikian syahdu, penyesalan yang
sangat berat diucapkan, dan teriakan yang memilukan. Itu semua
menggambarkan betapa kepedihan itu meluap dari hati sang penyair yang
mengalami sendiri kepedihan dan kesengsaraan hidup. Ia tak ubahnya seorang
penasehat yang juga pernah merasakan apa yang ia ucapkan. Dan, biasanya,
perkataan atau nasehat orang seperti itu akan mudah masuk ke dalam relung
kalbu dan meresap ke dalam ruh yang paling dalam. Semua itu adalah karena
ia mengalami sendiri kehidupan pahit dan beban berat yang ia bicarakan.
{Maka, Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan
ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan
yang dekat (waktunya).}
(QS. Al-Fath: 18)
Jangan cela orang yang sedang kasmaran
hingga belitan keras deritamu berada dalam derita dirinya
Saya banyak menjumpai syair-syair terasa sangat dingin, tidak hidup,
dan tidak ada ruhnya. Itu, bisa jadi karena kata-kata yang teruntai dalam bait-bait tersebut bukan terbit dari sebuah pengalaman pribadi sang penyair,
tetapi suatu dikarang dan direka-reka dalam aura kesenangan. Karya-karya
yang demikian itu tak ubahnya dengan potongan-potongan es dan
bongkahan-bongkahan tanah; dingin dan tawar.
Saya juga pernah membaca karangan-karangan yang berisi nasehatnasehat
yang sedikit pun tak mampu menggerakkan ujung rambut orang
yang mendengarkannya dan tidak mampu menggerakkan satu titik atom
pun dalam tubuhnya. Semua itu, tak lain karena nasehat-nasehat itu tidak
terucap dari mulut seseorang yang langsung pernah mengalami dan
menghayati sendiri suatu kesedihan dan kesengsaraan.
{Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak terkandung dalam
hatinya.}
(QS. Ali ‘Imran: 167)
Agar ucapan dan syair Anda dapat menyentuh hati pembacanya,
masuklah terlebih dahulu ke dalamnya. Sentuhlah, rasakanlah dan resapilah
niscaya Anda akan mampu memberikan sentuhan ke tengah masyarakat.
{Kemudian, apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan
suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah.}
(QS. Al-Hajj: 5)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: