Oleh: Yudikelana | Oktober 26, 2008

“Ataukah mereka dengki pada manusia atas apa yang Allah karuniakan kepadanya?”


Kedengkian (hasad) itu seperti makanan asin yang senantiasa
merapuhkan tulang. Hasad itu juga seperti penyakit kronis yang selalu
menggerogoti tubuh pelan-pelan hingga rusak dan membusuk. Ada
ungkapan: “Tak ada yang menyenangkan dari seorang pendengki, karena
ia akan selalu menjadi musuh dalam selimut”. Ada pula orang-orang yang
berkata seperti ini: “Celaka benar seorang pendengki; memulai dengan
persahabatan dan mengakhiri dengan pembunuhan.”
Saya berusaha mencegah diri pribadi saya dan juga Anda agar tidak
mengidap penyakit dengki. Ini merupakan wujud kasih sayang saya terhadap
diri saya sendiri dan terhadap Anda sebelum dapat mencurahkan kasih
sayang kepada orang lain. Bagaimanapun, dengan dengki terhadap orang
lain, kita sama halnya dengan memberi makan kegalauan kepada dagingdaging
kita, memberi minum kegelisahan kepada darah kita, dan
menebarkan rasa kantuk pelupuk mata kita kepada orang lain.
Seorang pendengki, ibarat orang yang menyalakan pemanggang roti,
lalu setelah panas ia menceburkan dirinya sendiri ke dalam pemanggang itu. Keresahan, kecemasan dan kegelisahan hidup merupakan penyakitpenyakit
yang dllahirkan oleh sifat dengki untuk mengakhiri ketentraman,
kesejahteraan, dan kebahagiaan hidup. Bencana besar yang menimpa seorang
pendengki adalah dikarenakan ia selalu melawan qadha’ (ketentuan Allah),
menuduh Allah tidak adil dalam kebijakan-Nya, melecehkan syariat,
dan selalu menyeleweng dari ajaran-ajaran yang disampaikan oleh
Rasulullah.
Sungguh, kedengkian itu merupakan penyakit yang tidak bakal
mendatangkan pahala, dan juga bukan cobaan yang akan mendatangkan
balasan baik dari Allah bagi para pelakunya. Seorang pendengki akan selalu
panas ketika melihat orang lain mendapatkan kenikmatan dan kelebihan.
Dan itu akan berlanjut sampai ia mati, atau kadang sampai kenikmatan
orang lain tadi sudah tidak ada lagi.
Semua orang boleh diajak bersahabat, kecuali seorang pendengki.
Sebab, seorang pendengki akan selalu membawa kita agar menyepelekan
nikmat-nikmat Allah, menanggalkan semua kepribadian baik kita,
melepaskan ciri kehormatan kita, dan meninggalkan semua sejarah baik
kita. Itulah hahhal yang akan membuat seorang pendengki menerima —
meski mungkin dengan berat hati — Anda sebagai sahabatnya. Akan tetapi,
bukankah kita harus berlindung kepada Allah dari kejahatan seorang
pendengki ketika mendengki? Betapapun, seorang pendengki itu tetap
seperti ular hitam berbisa yang tidak akan pernah diam sebelum
menyemburkan bisanya pada tubuh yang tak berdosa.
Sungguh, saya peringatkan Anda agar jangan sekali-kali mencoba
untuk memiliki rasa dengki. Berlindunglah kepada Allah agar tidak bergaul
dengan seorang pendengki, karena Dia-lah yang selalu mengawasi Anda!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: