Oleh: Yudikelana | Agustus 29, 2008

Menyambut Ramadhan dengan Kesucian


Artikel ini Sumber dari WIKIMU.COM

Sebentar lagi kita akan memasuki Bulan Ramadhan. Bulan suci, di mana suasana religius akan sangat terasa, dibandingkan hari-hari biasa. Bukan hanya di masjid-masjid, tetapi bahkan di tempat-tempat yang biasanya menjadi ajang hiburan. Secara spontan, orang-orang akan memberikan ‘penghormatan’, dengan melakukan berbagai aktivitas yang berhubungan dengan keagamaan.

Hakikat bulan suci ini sebenarnya adalah waktu bagi umat muslim untuk melakukan proses pensucian diri di hadapan Allah, melalui puasa sebulan penuh. Dengan berdasar pada dalil Al Qur’an, Surat Al-Baqarah ayat 183 bahwasannya Allah telah mewajibkan orang iman berpuasa, sabagaimana yang telah dilakukan olah umat terdahulu. Tujuannya, supaya menjadi manusia yang bertaqwa.

Namun, substansi puasa sendiri tidak sebatas hablu mina Allah (hubungan manusia dengan Tuhannya), melainkan juga erat kaitannya dengan hablu mina naas (hubungan dengan sesama manusia). Dengan berpuasa, secara vertikal manusia telah menjalankan perintah Tuhannya, yakni menahan lapar dan dahaga serta mengekang hawa nafsu, sejak terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Untuk itu, Allah akan memberikan reward berupa pahala yang berlipat ganda. Mulai dari 10 lipatan hingga 700 kali lipat, bahkan illa masya Allah (sampai sekehendak Allah).

Dari sisi horizontal, puasa melatih seseorang untuk sabar dan peka terhadap penderitaan sesama. Dalam kehidupan sosial, kadang kita menghadapi permasalahan yang kompleks yang sering berujung pada konflik. Baik itu perselisihan, kesalahpahaman ataupun perpecahan. Begitu juga dalam konteks kita sebagai individu yang selalu dikuasai oleh hawa nafsu. Ketika berpuasa, mau tidak mau kita harus mampu meredam nafsu duniawi hingga tiba waktu berbuka.

Selain itu dengan puasa, kita bisa merasakan lapar dan dahaga, seperti yang sering dirasakan oleh saudara-saudara kita yang ‘kurang beruntung’. Tanpa itu, mungkin kita tak akan pernah bisa merasakan betapa beratnya menahan lapar dan haus selama seharian. Dari situlah kemudian tumbuh kepekaan kita terhadap penderitaan mereka. Sedangkan, secara medis sudah banyak penelitian yang membuktikan manfaat puasa bagi kesehatan.

Keutamaan lain Bulan Ramadhan yakni adanya Lailatul Qadr (malam berpangkat). Pada malam inilah wahyu Allah kepada Nabi Muhammad SAW genap 30 jus, atau orang sering menyebutnya sebagai malam turunnya Al Qur’an. Barangsiapa yang bisa menemui malam tersebut, maka pahalanya sama dengan 1000 bulan atau setara dengan 80 tahun beribadah. Hanya saja, Lailatul Qadr memang menjadi rahasia Allah, sehingga kita harus berlomba-lomba mencari keutamaan dari malam itu, dengan beri’tikaf di masjid pada malam ganjil, khususnya saat memasuki 10 hari terakhir.

Semua nikmat itu tentu tidak akan datang dengan sendirinya kepada kita. Dengan kata lain, butuh perjuangan dan pengorbanan dari tiap muslim untuk bisa menggapai keindahan di bulan yang penuh rahmat tersebut. Salah satunya dengan membersihkan hati dan pikiran mulai sekarang. Misalnya, saling memaafkan atas kesalahan yang pernah diperbuat. Baik dengan orang tua, sanak saudara atau tetangganya. Dengan begitu, saat memasuki bulan Ramadhan kita tinggal memusatkan ibadah kepada Allah. Insya Allah, jika hal tersebut dapat terwujud, maka kita akan ‘terlahir kembali’ sebagai manusia suci setelah Ramadhan berlalu.

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: