Oleh: Yudikelana | Agustus 4, 2008

Alasan klise


“Roh” dangdut tak sepenuhnya tumbuh dalam studio. Di panggung, musik ini bisa begitu hidup, menggali langsung dari semangat masyarakat yang menyukainya. Ia didukung oleh begitu banyak grup-grup kecil yang melata di berbagai daerah. Sulit bagi grup kecil itu melepas goyang erotis atau menyanyikan ratapan. Sementara kaset ratapan terus diproduksi dengan alasan klise: Mewakili masyarakat luas yang memang tak bisa lain kecuali meratap dan bermimpi.

“Cacat” ini bukan tak disadari oleh para praktisi dangdut. Berbagai upaya membina diri terus dilakukan. Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia (PAMMI) terbentuk. PAMMI pula yang menyelenggarakan ajang kreatif Lomba Cipta Lagu Dangdut (LCLD) yang diselenggarakan rutin dua tahun sekali.

Menurut Rhoma Irama, “Lomba ini diselenggarakan untuk meningkatkan citra dangdut yang agak kacau karena ulah sebagian oknum pemusik sendiri.” Maksudnya, dangdut sebenarnya bisa bersih dari unsur mabuk, goyang erotik, dan cap negatif lainnya.

Lewat arena LCLD diharapkan dangdut bisa sejajar dengan musik-musik lain, di samping dapat merangsang kreativitas para penggubah lagu dangdut. Kreativitas dalam menggubah lagu maupun aransemen merupakan syarat agar musik dangdut berkembang dan diterima masyarakat lebih luas. Terakhir, LCLD IV/94 diselenggarakan di hotel berbintang, Grand Hyatt Surabaya.

“Saya tidak gelisah dengan disko dangdut yang sekarang lebih menonjol,” komentar Camelia Malik tentang kiprah para yuniornya yang mendominasi percaturan musik Indonesia dua tahun terakhir ini. Mia melihat hal ini sebagai perkembangan sesuai dengan zaman.

“Anak-anak muda tak mungkin diajak mundur ke tahun 70-an untuk menyukai lagu-lagu S. Effendy misalnya. Dangdut mereka, ya dangdut disko. Biar mereka berkembang dengan identitas mereka sendiri,” tutur Mia yang pernah menggoyang Kerajaan Brunei, Malaysia bahkan di depan 27 kepala negara peserta KTT Non-Blok di Jakarta, dua tahun lalu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: