Sukses seorang Rhoma Irama sebagai Raja Dangdut sekaligus juru dakwah hingga saat ini bukanlah hal mudah. Tentangan dan tantangan datang dari berbagai pihak semenjak ia mencanangkan Soneta Grup sebagai Voice of Moslem pada awal 1970-an.
“Untuk menyampaikan ucapan Assalamualaikum saja dalam satu pertunjukkan musik pada masa itu sangat asing karena belum ada yang melakukannya,” kenang Bang Haji, baru baru ini. Ketika dia melakukannya menjelang aksi musiknya di Ancol, respons yang diterimanya justru dilempari penontonnya.
Bukan itu saja, media massa juga sempat mengecam dakwah lewat musik Rhoma Irama. Belum lagi kecaman musisi maupun pengamat musik pihak lain yang begitu keras. Apa yang dilakukan Bang Haji merespon semua serangan fisik maupun psikis itu?
“Saya berdoa kepada Allah dan memohon petunjuk,” kenangnya. Rhoma berdoa agar bila yang dilakukannya salah, maka jangan diberi kesempatan untuk mengembangkannya. Begitu sebaliknya, bila syiarnya bermanfaat dia meminta agar diberi keberkahan. Kenyataannya, Rhoma dan Soneta justru berkibar sesuai misi yang diembannya hingga saat ini.
Bahkan kibaran suksesnya nampaknya mulai menunjukkan terus berlanjut ke generasi di bawahnya. Setidaknya salah satu putra Rhoma, yakni Muhammad Ridho telah mewarnai jagad musik anak muda , di tengah penggemar muda dangdut berpaling. “Insya Allah apa yang saya canangkan sebagai Revolusi Dangdut ke-2, berjalan efektif,” katanya seraya mengarahkan Ridho dan kawan-kawan tetap pada track musik sesuai visi Voice of Moslem.


























