Oleh: Yudikelana | Februari 26, 2009

Tanya Jawab dgn Bang Haji


Selasa, 03 Februari 2009 Yang lalu
Silahkan Lihat Sumbernya Klik disini
Langsung Kepertanyaan

Apa yang dimaksud dengan revolusi dangdut?
Revolusi itu sebuah perubahan besar. Seperti yang saya lakukan pada 1970-an. Mengubah orkes Melayu ke musik dangdut. Itu sebagai upaya membendung derasnya pengaruh musik rock.  Saya berpikir, kalau saya tidak melakukan revolusi,  orkes Melayu akan tergilas musik rock, sebagaimana yang terjadi pada musik kerocong saat itu. Karena tidak melakukan apa-apa, akhirnya musik keroncong  tergilas. Nah, saya tidak mau kondisi seperti itu menimpa dangdut.

pangraj1Musik apa yang sekarang mengancam dangdut?
Ancaman itu berupa kemunduran musik dangdut.  Saat ini ada citra  negatif yang dilekatkan pada musik dangdut. Musik dangdut seolah  musik comberan. Di masjid-masjid, di majelis taklim, musik ini banyak dikecam. Karena ada unsur erotisme, yang kemudian di justifikasi oleh para pelaku di musik jenis ini.  Disebut pertunjukan  dangdut,  yang terjadi adalah pertunjukan tari telanjang.

Perubahan besar apa yang Anda rancang?
Perubahan besar-besaran pada semua aspek. Dari instrumen hingga akustik  bas, arkodean, dan gitar, saya lakukan elekronisasi.  Gitar dan bas saya ganti gitar dan bas listrik. Kemudian saya masukkan instrumen drum. Unsur  gitar dan drum menjadi ciri musik rock, akan begitu kental mewarnai musik dangdut ini.

Bagaimana dengan lirik lagunya, apakah masih tentang cinta?
Saya juga melakukan perubahan pada lirik dari pesimistik menjadi optimistis. Dari yang mendayu-dayu menjadi yang dinamis. (Rhoma  melantunkan  lagu Nafsu Serakah dan Badai Fitnah yang ada sentuhan musik rocknya).

Nafsu Serakah, misalnya. Di situ kalau diperhatikan iramanya jedur jeder..jedur jeder…jreng, jreng… dan Badai Fitnah yang lebih dinamis lagi. Jadi jelas,  bukan irama Melayu lagi tapi irama rock.  Dangdut ini  setara dengan rock. Nanti saya bersaing dengan Ahmad Albar, Ucok AKA, Giant Step, dan sebagainya. Dengan kata lain, ada kesetaraan antara dangdut dengan rock.

Apakah tidak ada orang  lain yang peduli dengan dangdut?
Orang mempunyai banyak pilihan musik, ada  pop, rock, blues, dan sebagainya. Tetapi tidak dengan musik dangdut. Saya kira secepatnya musik dangdut melakukan perubahan diri. Apabila  tidak ingin   dilupakan orang.  Saya mau menjadikan dangdut menjadi melodi yang universal. Karena dangdut itu nggak identik dengan goyangan, karena goyangan bukan musik

Apakah Anda akan mengangkat dangdut naik kelas?
Sejatinya musik ini memiliki potensi besar. Secara  demografi digemari masyarakat  kelas menengah ke bawah, yang merupakan potensi pasar yang luar biasai. Itu fakta yang ada selama ini saya rasakan.
Tidak hanya itu, di luar negeri dangdut  mendapatkan tempat. Ketika saya diundang  berbicara di depan Konferensi Budaya Internasional di Amerika Serikat Oktober 2008 lalu. Di sana ternyata banyak grup musik dangdut. Mereka menyanyikan lagu-lagu ciptaan saya dengan  berbahasa Indonesia.

Anak-anak muda sekarang lebih senang musik rock, segmen mana yang akan Anda rebut?
Setiap waktu selalu ada satu yang menjadi idola. Dulu, musik rock begitu digandrungi anak-anak muda. Namun, seiring dengan perjalanan waktu berbagai genre atau aliran musik ikut  berkembang. Pop menjadi idola anak-anak muda menggeser musik rock. Kemudian berkembang dengan berbagai subgenre. Saya kira, dangdut pun juga harus bisa mengimbangi perkembangan ini.

Bukankah saat ini sudah banyak pop dangdut dan rock bersenyawa dengan unsur dangdut? Fenomena seperti itu memang harus saya akui. Tetapi  unsur dominannya adalah musik genre yang bersangkutan. Katakanlah kalau kebetulan yang mengusung unsur itu adalah musik rock, nuansanya rock. Begitu pun dengan musik pop di saat bersenyawa dengan unsur dangdut. Yang saya inginkan adalah musik dangdut, soulnya dangdut namun nuansa atau kemasannya bisa rock atau pop. Jadi, ketika orang pertama kali mendengar, kesan pop atau rocknya terasa, tetapi bila dinikmati degan sungguh-sungguh akan terasa bahwa itu sebenarnya itu musik dangdut.

Anda terkesan  berjalan sendiri dalam memodifikasi dangdut?
Saya sangat mencintai musik dangdut, yang nota bene adalah musik asli Indonesia. Dangdut berasal dari orkes Melayu, Deli, Sumatera. Saya harus mempertahankan dan melestarikan musik ini. Saya menggunakan nama Sonet Two Band. Jadi, namanya band, bukan orkes Melayu lagi. Begitu dengan formasinya, persis seperti layaknya band-band yang ada, hanya lima personil. Ini sangat berbeda dengan Soneta Grup yang personilnya mencapai 15 orang.

Di situ Anda memasukkan sosok Ridho Irama?
Dalam revolusi ini harus ada ikonnya. Ikon  tentu harus orang yang sesuai dengan jamannya.  Ridho Irama yang jadi ikon.

Apa kelebihan anak Anda itu?
Ia memliki kemampuan atau karakter vokal  sangat bagus. Begitu pun kemampuannya memainkan alat musik. Sehingga pas sekali.  Saya sebagai arsitek saja. Saya yang mempunyai ide, kemudian merancang konsep musiknya. Selebihnya, dilakukan oleh Ridho dan kawan-kawannya.

Anda kurang  percaya dengan kemampuan Ridho sehingga harus didampingi?
Malah sebaliknya, saya meminta Ridho dan kawan-kawan di Sonet Two Band sebagai lokomotif dari revolusi ini. Memang, agar ruh atau soul dangdut itu tak bergeser dan tetap ada, saya mendampinginya. Sehingga, kelangsungan dangdut tetap berjalan. Saya beri kebebasan kepada Ridho untuk berekspresi, saya tidak membatasi.

Hebat mana  Ridho dan Anda?
Saya. Saya yang beri dia sebuah lagu. Saya minta Ridho dan kawan-kawan  mengaransemen sekaligus mendemonstrasikan. Mereka bebas melakukan aransemen dengan sentuhan musik apapun. Kemudian saya diskusikan. Di sini kebebasan Ridho muncul. Tetapi untuk decision maker-nya tetap saya.

Apa yang dilakukan  Ridho tidak orisinil karyanya sendiri?
Keterlibatan saya hanya sebagai arsitek revolusi, serta menjadi supervisi dari hasil proses kreatif Ridho dan kawan-kawan. Prosesnya tetap berada di tangan Ridho. Saya tegaskan kepada dia, be your self. Kamu bebas berekreasi, berekpresi…

Sonet Two Band seperti reinkarnasi  Soneta Grup?
Bukan,  Sonet Two Band milik mereka (Ridho)  sendiri. Munculnya  mereka, bukan berarti Soneta Grup bubar. Soneta Grup  tetap eksis.

Kapan album baru Anda diluncurkan?
Ada, tapi kapan waktunya belum ditentukan. Yang pasti, saya akan lebih konsentrasi ke lagu-lagu rohani.

Merilis lagu-lagu lama  dengan aransemen baru?
Keinginan seperti itu juga ada. Hanya saja jadwal saya juga padat di luar musik. Sehingga, masih mencari waktu yang tepat untuk itu.

Adakah biduanita yang akan diajak duet? Siapa kira-kira?
Ada, tapi siapa ya…, belum kepikiran….ha..ha..ha..

Apa saja kegiatan rutin Anda dan rencana terjun ke politik lagi?

Saya aktif di majelis taklim, mengurus royalti lagu-lagu. Sata tidak berminat masuk politik lagi. Saya justeru prihatin. Saat ini umat Islam terpecah-pecah dalam berbagai aliran politik dan kelompok. Karena itu, saya lebih memilih aktif di Forum Umat Islam Indonesia.

Anda tetap  bugar di usia 62 tahun?
Saya menjalani pola hidup teratur. Makan makanan yang sehat, olahraga, dan tentu saja selalu berpikir positif, dan menjalani hobi bernyanyi dan main musik. Saya tidak ingin memikirkan yang berat-berat, seperti politik misalnya. Biarlah orang lain saja.

About these ads

Responses

  1. apa penyebeb lapisan ultra violet??

  2. maap bung rhoma dan mas Ridho,, saran ni,,klo photo dan tampil di acara2 jgn terlihat Dada nya donk !!!!!!!!! ga enak aja dilihatnya,,, maap ya.. cuma saran aja,,tpi tetep sya sbg fans bung haji dan ridho,, sukses slalu dgn lagu2nya

  3. bang haji saya adalah penggemarnya ridho dan sonet 2 band saya ingin tanya kapan rindo ke palembang lagi?seandainya ridho ke-palembang jangan pada hari sekolahnya

  4. BAGAIMANA CARANYA AGAR BUKU SAYA BANG RHOMA BEREDAR DI SELURUH NUSANTARA?
    Telah terbit buku pengalaman haji yang sangat membantu buat para calon jemaah haji Indonesia.
    Judul: 40 Hari Di Tanah Suci.
    Bisa didapatkan di:
    Kota Medan: Toko Buku Sembilan Wali, Populer, Obor Muda.
    Kota Padang: T. Buku Sari Anggrek, Takdir
    Bukit Tinggi: TB Irama, Utama, Seroja, Sari Anggrek
    P. Sidempuan: TB Krakatau
    Panyabungan: TB Ropikoh, Hijrah, Calista, Ashar Tanjung.
    Bagi yang bertempat tinggal di selain kota yang tertulis di atas, bisa memperolehnya melalui
    http://www.mandailingnatal.page.tl
    (Situs Buku 40 Hari di Tanah Suci)
    Penulis: Ashartanjung@gmail.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: