Oleh: Yudikelana | Desember 29, 2008

Soneta formasi III(1983-1989


Artikel Berita Kiriman dari mas Noer_MN

Soneta formasi III(1983-1989)
Rhoma Irama      :lead guitar/vocal
Noerhalimah       : Vocal
H.Nasir              : Mandolin
H.Hadi               : Suling
H.Popong           : Bass
H.Hafif                : Gendang/Drum
H.Riswan           : Organ/keyboaard/synhthesiser
H.Wempy             : Guitar 2
H.Nasir              : Mandolin
Dadi                  : Brass Section
Farid                 : Brass section
Yanto                : Brass Section

Album : Volume 13 (Emansipasi Wanita-Soneta Record)
Soundrack film  Pengorbanan (Sokha Record)
Soundtrack film Satria Bergitar (Naviri)
Soundtrack film Cinta Kembar (Naviri)
Soundtrack film Pengabdian (Naviri)
Live Show in Tambaksari Surabaya (Yukawi)

Lomba Cipta Lagu Dangdut Nasional (Soneta Record)
Soundtrack film Kemilau Cinta dilangit Jingga (Soneta)
yg terdiri dari 3 versi kaset, yaitu Album STOP, Single
Persaingan dan satu kaset Soundtrack lengkap)
Soundtrack film Menggapai Matahari I-II (Asia Arga
Abadi Record)
Renungkan (Soneta Record)
Kabar dan Dosa (HRS Record)
Soundtrack film Nada-Nada Rindu (MSC)
Volume 14 (Judi) MSC Record

catatan :
Kesuksesan Soneta tidak tertandingi oleh grup  musik manapun. Soneta merajai industri hiburan (musik dan film) walaupun tidak diperkenankan tampil di TVRI dan dipersulit ijin show dimana-mana. Akibat dari kemasyuran Rhoma Irama dan Soneta bermunculanlah plagiat2. Mara Karma dengan Kharismanya (Resesi), Nano Romanza dengan Rolista (Halilintar), Uci Marshall dengan Sanita (Dunia ; dulu didirikan oleh Herman dan Kadir ex Soneta), Iin Batara dan masih banyak lagi plagiat2 yang tampil mencuri kesempatan dikala Rhoma dan Soneta jarang tampil. Namun yang namanya plagiat pasti tidak akan bertahan lama. Plagiat2 tersebut hanya mampu bertahan satu dua tahun saja. Rhoma dan Soneta adalah emas murni bukan sepuhan. Lucu juga melihat banyak penyanyi dangdut berjenggot dan berjubah meniru Rhoma dan Soneta, namun tidak diimbangi dengan kwalitas lagu dan aransemen musik yang baik. Satu2nya group dangdut yang juga cukup sukses saat itu adalah Tarantula dengan Camelia Malik dan Reynold
Pangabean. Ini bisa terjadi karena Tarantula membuat trend dangdut tersendiri tidak mencontek Soneta (Kadir dan Herman ex Soneta juga sempat bergabung disini).
Dalam industri film Rhoma Iramapun sukses besar. Film Sebuah pengorbanan berhasil memperoleh penghargaan sebagai film terlaris bersama-sama dengan film Warkop DKI (sampai saat ini film lawas Rhoma dan Warkop DKI masih kerap diputar di TV Swasta).
Dibidang musik Soneta memperkaya orkestrasi musiknya dengan memasukkan alat musik tiup (Trompet) untuk mempertebal dan memperlebar wilayah suara. Boleh dikatakan ini Revolusi ke II dibidang musik dangdut. Dangdut Soneta semakin membuat perbedaan dengan dangdut2 lainnya. Mansyur S, Meggy Z, A.Rafiq masih asyik dengan buaian musik India, tetapi Soneta menerjang jauh merombak musik dan memodernisasi instrumen2nya.

Tahun 1984 untuk pertamakalinya Noer Halimah bergabung bersama Soneta sebagai vokal pendamping. Soundrack film Satria Bergitar adalah debut awalnya dengan satu lagu Pesona. Film Satria Bergitar sendiri merupakan film termahal saat itu dengan biaya sekitar 750 juta padahal ukuran standar film2 nasional berkisar antara 150-200 juta saja. Ini juga merupakan film Indonesia pertama yang menggunakan tata suara Dolby Stereo dari Australia.

Album Emansipasi Wanita (Volume13) adalah album perdana yang diproduksi oleh Soneta Record milik Rhoma pribadi setelah mengakuisisi Studio Yukawi. Album ini bagi saya adalah album terbaik Soneta. Unsur musiknya kuat, lirik2nya pun sarat makna. Emansipasi Wanita, Modern, Nasib Bunga, Lagi-lagi Cinta dan Nilai Sehat adalah lagu-lagu  yang dikumandangkan dalam album tersebut.

Tahun 1984, tepatnya tangal 12 SEptember terjadi peristiwa Priok Berdarah. Sebuah peristiwa yang terjadi sebagai eskalasi puncak dari pertentangan pemerintah dengan kalangan Islam. Pemerintah menetapkan asas tunggal, sebagian kalangan Islam menolak keras. Apa hubungannya dengan Rhoma dan Soneta? Saat itu Rhoma boleh dikatakan berada dalam kalangan yang menolak penerapan asas tunggal, apalagi Rhoma berkawan karib dengan Alm. Amir Biki, tokoh peristiwa tersebut. Dan konon Rhoma sempat ikut diperiksa oleh LAKSUSDA Jaya. Namun akhirnya Rhoma mendapat surat clearance dari LAKSUSDA Jaya I(kala itu Pangdamnya Jendral Try Sutrisno). Dan sebagai bukti bersihnya Rhoma, Soneta tampil menghibur dalam Ulang Tahun KODAM Jaya. Dengan seragam loreng Soneta menggebrak Lapangan Makodam di Cililitan.

Saat shooting film Pengabdianpun sempat terganggu dengan ditemukannya bubuk mesiu disalah satu diesel yang digunakan untuk keperluan shooting tersebut.

Diawal-awal tahun 1985, publik dikagetkan dengan berita perceraian Rhoma dengan Veronica dan sekaligus pernikahan Rhoma dengan Ricca Rachim. Sontak terjadi perdebatan pandangan para penggenar antara pro dan kontra. Teman-teman sayapun banyak yang emosi dan melampiaskannya dengan membakar semua koleksi album2 Sonetanya (tapi sekarang pada nyesel tuh). Untung saya tidak terlalu emosional dengan hal tersebut, koleksi2 Soneta saya utuh sampai sekarang. Mengapa demikian? Karena saya menyukai dan mengapresiasi musik Soneta tidak melihat Rhoma Irama sebagai pribadi. Saya lebih mengagumi kemampuan beliau dan Soneta dalam membidani sebuah musik dangdut yang dulunya kampungan menjadi sebuah musik yang sangat dahsyat dan membawa pencerahan dalam industri musik Indonesia bahkan boleh dikatakan menjadi bagian dari sejarah musik Indonesia.

Polemik tersebut tidaklah berlangsung lama. Soneta tetap tegar mengukuhkan eksistensinya dibidang hiburan musik. Bahkan Majalah Asiaweek Edisi ke16, Agustus 1985 menobatkan Rhoma Irama dan Soneta sebagai SOuth Easth Asia Superstar (Suoerstar Asia Tenggara). Dengan memuat liputan pertunjukan Soneta di Kuala Lumpur. (Rhoma dan Soneta ke Kuala Lumpur dalam rangkaian Pesta Kebudayaan Malaysia).

Salah satu pertunjukan kolosal yang memecahkan rekor penonton terbanyak adalah pertunjukan tunggal Soneta di Parkir Timur Senayan tanggal 18 Agustus 1985. Lebih dari 100.000 penonton menghadiri pertunjukan tersebut. Ini hampir bisa disamai dengan rekor pertunjukan Rock Merah Putih ditempat yang sama namun dengan menampilkan lebih dari 40 group musik. (Bandingkan dengan Soneta yang hanya tampil tungal). Juga pertunjukan Soneta di Tanjungkarang (Lampung) selama 3 malam berturut-turut dan setiap malamnya dikunjungi tidak kurang dari 40.000 penonton (harian KOMPAS).

Tahun 1988 Soneta kembali diperkenankan tampil di TVRI dengan hit Judi. (saya memcatat hanya 2 kali ditayangkan yaitu di acara Kanera Ria dan Album Minggu ini).

Bersambung…..

About these ads

Responses

  1. Maju trus wat bang haji smoga blantika musik dangdut mendominasi dunia… Amiin
    Wassalam isa

  2. TOP abis dech…Yud..!!

  3. MANTAP.. ulasannya..
    Jadi tau banyak mengenai bang haji…
    Lanjut terus ulasan perjalanan Rhoma dan Sonetanya sampai 2009 ini.. donk

  4. mantap oiyy


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 25 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: